Cari Blog Ini

Selasa, 10 Mei 2011

MINI DRAMA : MALIN KUNDANG SI ANAK DURHAKA

 MALIN KUNDANG

(BABAK I)

(Pada suatu hari, hiduplah sebuah kerajaan pesirir pantai wilayah Sumatra. Keluarga itu mempunyai seorang anak yang diberi nama Malin Kundang. Karena kondisi keluarga mereka sangat memprihatinkan dan Malin juga sudah tidak mempunyai ayah, maka Malin kundang memutuskan untuk pergi ke negeri seberang).
Malin Kundang : “Bu, besok aku akan pergi untuk mencari nafkah di negeri seberang dan aku akan kembali ke kampung halaman  setelah aku menjadi seorang yang kaya raya, bu !!!”
Ibu : “Ya nak hati-hati kamu disana. Besok ibu akan mengantar keberangkatanmu itu.”
Malin Kundang : “Baik Bu…”
(Keesokan harinya Malin Kundang diantar ibunya pergi ke laut untuk berlayar bersama seotang nahkoda kapal)
Malin Kundang : “Bu, aku berjanji pada ibu aku akan kembali ketika aku sudah menjadi seorang yang kaya raya nanti.”
Ibu : “ Ya nak ibu akan selalu mendo’akan kamu agar kamu baik-baik disana. Kamu juga jangan sampai lupa sholat nak.”
Malin Kundang : “ Ya Bu, aku akan mengingat pesan ibu. Sekarang aku pergi dulu ya Bu…”
Ibu : “ Ya Nak, hati-hati kamu.”
            (Selama di kapal Malin Kundang banyak belajar tentang ilmu pelayaran dan akhirnya dia sangat mahir dalam hal perkapalan, tiba-tiba kapal yang dinaiki Malin Kundang diserang oleh bajak laut. Beruntung Malin Kundang tidak dibunuh karena ketika peristiwa itu terjadi Malin segera bersembunyi di sebuah ruang kecil yang tertutup kayu)
 
Malin Kundang : “ Beruntung aku masih hidup dan terdampar di pulau ini. Kelihatannya di sana ada sebuah desa. Aku harus cari pertolongan. “
Aisyah : “ Kamu siapa, sebelumnya kau belum pernah melihat kamu di desa ini. “
            (Malin Kundang menceritaka kejadian yang sudah terjadi pada dirinya)
Aisyah : kalau begitu kamu tinggal di rumahku saja, kebetulan ada rumah yang tidak digunakan lagi tapi masih bisa diperbaiki.”
Malin Kundang  : “Terima kasih, kau memang gadis yang baik.”
            (Akhirnya gadis itu membawa Malin ke rumahnya dan memberi tahu ayahnya}
Ayahnya : “Siapa dia ini, nduk…?”
Aisyah : “Dia ini pemuda yang terdampar di pantai, Yah.”
Ayahnya : “Baiklah bawa pemuda itu ke dalam agar dia bisa mandi dan jangan lupa beri dia makanan.”
            (Keesokan harinya si gadis dipanggil oleh ayahnya)
Ayahnya : “Nduk.. coba kamu kemari !!!”
Aisyah  : “Wonten nopo, Yah???”
Ayahnya: “Bilang kepada pemuda itu lebih baik dia kerja di ladang ayah saja.”
Aisyah  : “Baik yah aku akan bilang kepada Malin.”
            (Setelah beberapa bulan dia bekerja di rumah gadis tersebut dia menjadi orang yang kaya dan dia ingin mempersunting gadis tersebut)
Malin Kundang : “Aisyah, boleh aku mengatakan sesuatu padamu?”
Aisyah : “Ya, kau mau bilang apa?”
Malin Kundang : “Sebenarnya aku mempunyai rasa cinta padamu dan aku ingin kau menjadi istriku.”
Aisyah : “Benarkah yang kau katakan?”
Malin : “Ya, Aisyah.”
Aisyah: “Ya, Malin aku mau menikah denganmu tapi kau harus meminta izin dulu pada ayahku.”
Malin : “Baiklah aku akan meminta izin dulu pada ayahmu.”
            (Beberapa saat kemudian Malin menemui ayah Aisyah)
Malin : “Pak….”
Ayah gadis : “Ya Malin, ada apa?”
Malin: “Aku ingin mempersunting anakmu, Aisyah. Akankah kau memberikan izin padaku, Please…..!”
Ayah gadis : “Baiklah karena kau sudah memohon padaku. Aku tidak tega melihat wajahmu itu, aku merestuimu.”
Malin : “Terima kasih Pak…. I love you… ups salah Aku cinta pada anakmu.”
            (Keesokan harinya merekapun menikah)


BABAK II

(Setelah beberapa lama menikah Malin dan isterinya melakukan pelayaran dengan kapal yang besar dan indah. Sedangkan ibu Malin Kundang yang setiap hari menunggu anaknya melihat kapal yang indah itu, masuk ke pelabuhan. Setelah ia melihat Malin dia yakin kalau ia adalah anaknya)
Malin : (Turun dari kapal)
Ibu Malin : “Malin Kundang anakku, mengapa kau pergi begitu lama tanpa mengirimkan kabar pada ibu?”
Malin : (Mendorong ibunya hingga terjatuh) “Hey, dasar kau wanita tak tahu diri. Sembarangan saja mengaku sebagai    buku? Ibuku sudah mati dan tidak mungkin aku punya ibu yang pengemis sepertimu.”
Aisyah : “Apa benar wanita itu ibumu, Malin….?”
Malin : “Tidak. Ia hanya seorang pengemis yang pura-pura mengaku sebagai ibuku agar bisa mendapatkan hartaku.”
(mendengar pernyataan dan diperlakukan semena-mena oleh anaknya, ibu Malin sangat   marah)
Ibu Malin : (Berdo’a) “Ya Allah, Kalau benar ia anakku, aku                                                      bersumah dia aka menjadi batu”
(Tidak lama kemudian tubuh Malin Kundang perlahan-lahan menjadi kaku dan lama-kelamaan akhirnya dia berbentuk menjadi sebuah batu karang)
            Akhirnya Malim Kundangpun berubah menjadi batu karena ucapan ibunya yang merasa diperlakukan semena-mena. Dan sampai sekarangpun legenda Malin Kundang masih dipercayai oleh orang Padang.




2 komentar:

  ATAS BERKAT RAHMAT ALLAH YANG MAHA KUASA   DOA BERSAMA LINTAS AGAMA   JILID I PERSAUDARAAN CINTA TANAH AIR INDONESIA YANG DIJIWAI MANU...