Cari Blog Ini

Minggu, 13 September 2020

NIAT, KEMAMPUAN DAN REALITA

Niat

Niat artinya sengaja untuk melakukan suatu perbuatan atau tindakan. 
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Niat berarti :
1. Maksud atau tujuan perbuatan
2. Keinginan (dalam hati) akan melakukan sesuatu
3. Janji untuk melakukan sesuatu

ilustrasi niat

Secara bahasa, orang Arab menggunakan kata-kata niat dalam arti ‘sengaja’. Terkadang niat juga digunakan dalam pengertian sesuatu yang dimaksudkan atau disengajakan. Sedangkan secara istilah, tidak terdapat definisi khusus untuk niat. Maka dari itu, barangsiapa yang menetapkan suatu definisi khusus yang berbeda dengan makna niat secara bahasa, maka orang tersebut sebenarnya tidak memiliki alasan kuat yang bisa dipertanggungjawabkan.

Karena itu banyak ulama yang memberikan makna niat secara bahasa, semisal Imam Nawawi, ia mengatakan niat adalah bermaksud untuk melakukan sesuatu dan bertekad bulat untuk mengerjakannya. Pendapat yang lain mengatakan, Niat adalah maksud yang terdapat dalam hati seseorang untuk melakukan sesuatu yang ingin dilakukan. 

Niat juga sebagai pembeda nilai atau hukum sebuah tindakan atau perbuatan.Yang membedakan sholat wajib dan sholat sunnah adalah niatnya, walaupun jumlah rokaatnya sama, waktunya sama, gerakannya sama kalau niatnya sholat wajib, maka nilai dari sholat tersebut adalah wajib. Walaupun rokaatnya sama, waktunya sama, gerakannya sama kalau niatnya melaksanakannya sholat sunnah, maka sholat tersebut hukumnya sunnah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya seseorang hanya mendapatkan apa yang dia niatkan. Maka barang siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bahkan dikatakan niat yang baik saja sudah mendapat nilai kebaikan. Artinya niat yang baik untuk melakukan sesuatu walaupun itu belum dilaksanakan atau bahkan nantinya karena sesuatu dan lain hal tidak bisa dilaksanakan, orang tersebut sudah dapat pahala atau sudah dapat nilai kebaikan. 

Misalnya ada orang yang berniat malam ini nanti akan melaksanakan sholat tahajud, kemudian setelah lewat tengah malam ternyata orang ini tidurnya cukup pulas sehingga waktu untuk melaksanakan sholat tahajud terlewatkan. Maka dia sudah dapat nilai kebaikan dari niatnya tersebut. Begitulah hebatnya niat. Dan niat itu akan benar-benar bernilai manakala niat tersebut disandarkan kepada keikhlasan. Ikhlash lillaahi ta'ala. Ikhlas semata-mata karena Allah Subhanahu Wata'ala.

Sebagaimana tersebut dalam hadits di atas, bahwa seseorang tidak akan mendapat apa-apa kecuali sesuai dengan apa yang dia niatkan itu. Satu contoh minsalnya, ada orang yang berniat shodaqoh untuk pembangunan masjid. Sebagai orang yang terpandang di kampung itu karena ekonominya cukup mapan, maka dia bershodaqoh lebih banyak dari pada orang-orang lain di kampung itu. Dalam hatinya niat bershodadqoh tetapi dalam hatinya pula ada niatan agar dirinya dinilai sebagai orang yang dermawan. Shodaqoh dengan niat semacam ini tentu tidak akan mendapat nilai kebaikan selain dia dicap sebagai orang terpandang saja. Tentu nanti di akherat dia tidak memperoleh apa-apa.

Niat, kemampuan dan realita

Tidak jarang kita jumpai seseorang sudah niat melakukan sesuatu perbuatan yang baik, namun karena sesuatu dan lain hal karena tidak adanya kemampuan sehingga realitanya hanya berhenti sebatas niat saja. Memang nia sangat erat kaitannya dengan kemampuan yang pada gilirannya menjadi sebuah realita. Alangkah indahnya jika niat sudah tertata dengan baik lalu Allah SWT memberikan kemampuan untuk mewujudkan niatnya itu dan pada akhirnya realita yang dihadapi sesuai dengan yang diharapkan. Inilah yang oleh orang Jawa disebut dengan istilah jumbuh

Mempertahankan niat

Manusia sering gagal untuk tetap bisa mempertahankan niat. Dalam perkembangannya banyak sekali jebakan-jebakan batman yang berusaha membelokkan niat tersebut dari sesuatu yang baik berubah menjadi sesuatu yang tidak baik. Ambil contoh minsalnya, sejak awal sudah niat melaksanankan sholat Jumat. Tata cara dan syarat rukun dipersiapkan agar ibadah sholat Jumat benar-benar afdol dan bernilaikan kebaikan. 

Diawali mandi membersihkan diri sebagai sunnah sebelum melaksanakan sholat Jumat. Tidak ketinggalan memakai baju yang bersih, putih dan terjaga dari kotoran-kotoran. Memakai wangi-wangian untuk menambah rasa percaya diri disamping melaksanakan sunnah rosul. Bismillah... berangkatlah ke masjid untuk melaksanakan sholat Jumat. Sampai di sini aman-aman saja. Dilaksanakanlah sholat tahiyyatal masjid kemudian duduk dengan khusyu' laksana i'tikaf di Bulan Suci Ramadhan. Prosesi sholat Jumat dimulai. Begitu khatib naik mimbar taulah dia bahwa khatib tersebut orang yang selama ini tidak dia sukai. Apa yang terjadi. Selama khotbah berlangsung hatinya tidak tenang. Selalu diliputi dengan kebencian. Bahkan sholat Jumat terasa begitu lama dari biasanya. Maka gagallah orang tersebut mempertahankan niat-nya. Niat melaksanakan ibadah sholat jumat bisa berubah menjadi menggerutu, diliputi api kebencian, kedengkian dan lain sebagainya.

Begitulah beratnya mempertahankan niat. Konsistensi niat harus dijaga dengan baik jangan sampai tergelincir oleh sesuatu yang berusaha membelokkan niat menuju arah yang tidak baik. Selamat berjuang mempertahankan niat. (*471)

Bagaimana pendapat Anda ?


 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  ATAS BERKAT RAHMAT ALLAH YANG MAHA KUASA   DOA BERSAMA LINTAS AGAMA   JILID I PERSAUDARAAN CINTA TANAH AIR INDONESIA YANG DIJIWAI MANU...